KADER DAKWAH ….JALAN MASIH PANJANG
Syafiuddin Fadlillah, Lc, M.Si
(Ketua Unit Kaderisasi DPRa)
Kader dakwah adalah para da’i yang Allah SWT bentuk karakter mereka menjadi pribadi-pribadi yang shalih terhadap diri sendiri dan juga bisa menshalihkan orang lain ( Q.S Al Ashr, ayat 1-3).
Shalih Individu adalah tuntutan yang harus dilakoni setiap muslim, namun kader dakwah disamping mampu menjadi orang-orang yang shalih secara pribadi juga harus mampu mentransfer kesalihan induvidunya kepada orang lain, hingga akan muncul pribadi-pribadi yang shalih karena adanya kader dakwah yang selalu siap mentransfer kesalihannya kepada orang lain.
Jika seorang kader dakwah bisa puas dengan bisa mengkhatam Al-Quran sebulan sekali, sholat malam yang khusyu’, sholat berjamaah yang tak terlewatkan maka orang lain juga harus bisa merasakan apa yang dirasakan kader dakwah ini, jika ternyata kader dakwah hanya Asyik dengan kelezatan ibadahnya dan belum mampu membuat orang lain menjadi shalih maka dakwahnya telah gagal.
Diera partai dimana dakwah sudah masuk kedalam kancah politik praktis pernyataan kader dakwah pilihan Allah yang shalih secara induvidu dianggap sudah final, hingga bukan pertanyaan lagi kenapa kader dakwah terus menerus bermasalah dan menjadi beban orang lain.
Jika diera partai ini kader dakwah masih mempermasalahkan kader kader yang masih terus bermasalah maka dakwah akan jalan ditempat dan pertanyaan selanjutnya adalah bagimana bisa menshalihkan orang lain jika pengemban dakwah saja masih sibuk dengan urusan yang seharusnya sudah final.
Bukan zamannya lagi seorang pengemban dakwah yang nota bene adalah pilihan Allah masih iri dan dengki dengan nikamat Allah yang dititipkan kepada saudaranya, bukan pula zamannya seorang kader sibuk hanya memikirkan masalah masalah mendasar yang seharusnya bukan dijadikan problem dakwah.
Said bin Umair mungkin bisa menjadi contoh baik para pengemban dakwah, apapun posisi dan amanah dakwah yang diberikan maka keshalihan pribadi atau individu tetap tidak luntur.
Ketika Said menjadi seorang prajurit ia dengan tulus menjadi prajurit yang baik, berjuang membela agama Allah, dimanapun Ia injakkan kakinya Ia selalu mendirikan masjid sebagai symbol keinginannya menegakkan agama Allah.
Dan ketika Umar bin Khattab RA memintanya menjadi Gubernur Palestina, keshalihan nya tak berkurang, Ia sama sekali tetap seorang Dai yang memiliki cita-cita tertinggi, menjadikan orang lain Shalih, Said mampu bertahan menjadi Gubernur Palestina yang merupakan propinsi dengan permasalahan yang sangat berat hingga jarang sahabat yang bisa bertahan menjadi Gubernurnya.
Said tetaplah Said yang tawadhu ditengah bergelimang harta dan jabatan, Ia tidak memberi celah kepada kader agar jangan ada lubang fitnah yang menjadikan dakwah ini terfitnah, Ia bisa saja naik kendaraan termewah namun karena takut kader terfinah Ia memilih jalan kaki menghadap Kepala Negara Umar Bin Khattab RA.
Apapun posisi seorang dai maka keshalihan individu adalah final, Ia prajurit, Ia pemimpin, Ia kader inti, Ia wakil rakyat, Ia pejabat, ia Suami atupun Istri maka mutlak baginya memiliki sifat Shalih diri.
Perjalanan dakwah ini masih panjang, karenanya hal-hal yang sudah dianggap final janganlah menjadi konsumsi public yang selanjutnya akan merugikan dakwah itu sendiri.
Kader harus faham bahwa Ia tidak boleh terlalu banyak menggunjing kader lainnya yang menjadi pejabat public, kader yang diamanahi jabatan public juga harus faham agar jangan membuka lubang fitnah bagi kader lainnya, jika ada indikasi akan munculnya fitnah maka meninggalkannya lebih utama.
Mustafa Masyhur dalam Awaiq Dakwah mengingatkan pengemban dakwah agar selalu hati hati dengan tabiat dakwah yang berkarakter Thulut Thariq ( Jalan Panjang ) Katsarul Awaiq ( banyaknya hambatan ) dan Katsratul Masyaqqah ( beban yang berat ) .
TANTANGAN 2009
Ketika dakwah ini memasuki politik praktis pada tahun 1999, kader dikejutkan dengan hasil yang tidak sebanding dengan fenomena PK yang begitu sensasional, perolehan 1,4 juta dengan 7 kursi DPR pusat dan 163 kursi DPRD begitu memukul kader, namun kiprah anggota dewan yang tawadhu dengan vespanya atau naik bus kota ke gedung dewan mampu membuat kader bangga dan semangat dakwahpun kembali membara.
Pemilu 2004 dengan menggunakan PKS dan semangat Bersih dan Peduli, Allah membalas kesabaran dan kerja keras kader dengan memperoleh 45 anggota dewan DPR pusat dan 1.112 anggota dewan daerah dan lebih dari 34 kemenangan pilkada diperoleh.
Keikhlasan dan pengorbanan kader begitu menjadi senjata gratis yang tak mungkin dimiliki kader partai lain, kaderlah penggerak jamaah ini dan tanpa keikhlasan mereka dakwah hanyalah simbol tak berarti.
Kader kembali diuji keikhlasannya dengan banyaknya fitnah yang menimpa jamaah ini, fenomena ini terlihat dari munculnya praktek poligami para qiyadah dan kader, tidak tsiqohnya kader pada qiyadah sehingga berpindah ke jamaah lain, hingga kasus munculnya isu dakwah ini akan menjadi partai terbuka.
Benar apa sabda Nabi SAW : Aku tidaklah takut karena fitnah kemiskinan yang menimpa kalian namun yang Aku khwatirkan adalah jika pintu kekuasaan telah dibuka untuk kalian (H.R Muslim).
Kader kini di uji lagi dengan begitu banyak fitnah, satu masalah selesai muncul lagi masalah lain, belum jernihnya suatu isu, kader dikejutkan dengan isu yang baru, dan tidak terasa 2009 sebentar lagi akan datang dengan beban dakwah yang tentu kian besar akan kembali dijalani kader.
Dakwah ini akan jalan dengan jamaah ini atau dengan orang lain, karenaya jika kader terus menerus mempermasalahkan masalah yang memang tak akan selesai maka dakwah ini mungkin akan Allah amanahkan kepada orang lain yang lebih siap.
Perjalanan dakwah masih panjang, mari bermuhasabah, apaun jabatan yang kader jalani, Jamaah ini milik Allah dan sipapun yang bekerja karena Allah maka ia akan tetap bersama Jamaah, dan siapa yang terlibat didakwah ini karena kepentingan yakinlah Ia akan tersisih cepat atau lambat karena memang begitulah sunnatullah.
Merenunglah wahai kader dakwah ………………
Wallahu ‘Alam
Kamis, 12 Juni 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar